Linux ? Makanan apaan tuh ? Linux adalah sebuah sistem operasi berkualitas tinggi yang sekarang sudah layak disebut sebagai saingannya Windows. Salah satu hal yang menarik dari Linux adalah sifat sistemnya yang terbuka. Terbuka a.k.a. open source adalah satu filosofi yang sangat menarik perhatian saya beberapa tahun lalu. Walaupun saya sudah kenal Linux dari kelas 2 SMA (kira-kira tahun 2000), tapi konsep open source baru saya sadari betul sewaktu saya mulai kuliah di UGM. Menurut saya, konsep open source dengan open community-nya adalah sebuah produk powerfull yang dapat memberikan alternatif bagus selain produk closed source.
Saya termasuk orang yang "hobi ngoprek" alias terima bongkar tapi terima pasangnya kadang-kadang hehe... Jadi yang sangat menarik dari Linux adalah "kesediaannya" untuk dibongkar-bongkar. Wah, serasa dapat mainan baru lah pokoknya. Buat saya, semakin kompleks dan rumit Linux malah mendatangkan lahan pembelajaran baru dan makin membuat saya betah saja di lingkungan Linux.
Konsep open community juga begitu memberi sumbangsih berarti bagi pola pikir saya. Di dalam komunitas open source, semua programmer bekerja dalam tingkat keseriusan tinggi walaupun mereka tidak dibayar dan bekerja mengandalkan waktu luang mereka di tengah-tengah kesibukan. Saya begitu tersentak ketika membaca motto para pengembang software open source di sebuah artikel beberapa tahun lalu : "Lakukan dengan baik atau tidak sama sekali". Wow, saya belajar satu hal terpenting di sini, etos kerja, dengan atau tanpa dibayar. Dengan etos kerja tinggi, bahkan uang sekalipun akan datang menghampiri kita, karena tentu saja orang-orang yang dibutuhkan di dunia kerja adalah orang-orang dengan etos kerja yang cukup tinggi.
Open source juga mengajarkan saya tentang menghargai orang lain. Setiap kontributor dalam komunitas open source tidak akan pernah mengakui satu baris kode pun yang ditulis orang lain sebagai miliknya. Walaupun sebuah program dibuat oleh programmer A, kemudian dimodifikasi oleh programmer B, maka programmer B tetap akan menuliskan programmer A sebagai pembuatnya dan bahkan memberikan patch program tersebut ke pembuat awalnya untuk dievaluasi. Begitu besar hubungan kerja sama di dalam komunitas bahkan sampai menciptakan sebuah kedekatan di antara kontributor, dan ini adalah suatu budaya yang sangat bagus.
Dari Linux saya juga belajar untuk tidak mengeluh. Dengan begitu banyaknya kendala saat menggunakan Linux (terutama pada awal-awal dulu sebelum Linux semudah ini) saya dituntut untuk selalu berpikir positif dan tegar agar kendala yang saya hadapi dapat diselesaikan. Dari kebiasaan ini, mental berpikir saya menjadi semakin keras yang menurut saya membawa dampak positif bagi proses belajar saya sekarang ini.
Linux juga mengajarkan saya banyak hal tentang sistem operasi, dan tidak hanya itu, banyak konsep pemikiran yang saya dapatkan di sini, terutama tentang desain sistem dan hubungan antar komponen dalam sistem, dan masih banyak lagi, termasuk konsep sabar. Kalau gak belajar sabar saya pasti sudah meninggalkan Linux dari jauh-jauh hari. Banyak lah pokoknya .... intinya saya sangat suka dengan sistem operasi ini karena selalu memberikan hal-hal positif untuk saya dan tentu saja ada peluang ibadah di sini ... dalam dunia open source.
Jumat, 30 November 2007
Lebih ke dalam Kernel
Saya termasuk salah satu orang yang paling beruntung di dunia karena pada akhir tahun ini saya mulai mempelajari "dalamnya" kernel Linux. Bagi hampir kebanyakan mahasiswa ELINS UGM, materi sistem operasi bukanlah suatu hal yang penting. Saya adalah salah satu dari salah beberapa orang yang menganggap penting sistem operasi dalam bidang ELINS. Mengapa ? Sederhana saja, karena saya pengikut setia Pak Jazi, lho ... hahaha .. bercanda. Saya setuju dengan konsep Pak Jazi tentang pengertian bidang ELINS yang beliau sampaikan pada salah satu kuliahnya dulu. ELINS meliputi embedded system dan pengukuran. Wah, dalam juga ya, dan perkataan beliau memberikan inspirasi besar dalam pembelajaran saya selama ini..
Embedded system adalah salah satu bidang yang paling gress sekarang ini dan mahasiswa ELINS sangat dituntut untuk bisa "berenang:" di situ. Embedded system melibatkan aktifitas kontrol dan juga banyak aktifitas pengukuran yang tentu saja sangat penting untuk mendapatkan data-data dalam melakukan proses pengendalian. Tidak ada AC otomatis yang tidak melakukan pengukuran suhu setiap periode waktu tertentu, atau sistem penyiraman otomatis yang tidak mengukur kadar air dalam tanah. Dengan mengukur sejumlah quantity dari lingkungan, sebuah alat kontrol dapat mengambil tindakan tertentu terhadap suatu lingkungan atau alat yang lebih besar. Sederhana banget ya ELINS itu ?? Kata siapa sederhana ?? ya kata saya barusan ... hehehe ... Memang sederhana tapi dengan implementasi yang lumayan kompleks juga, tapi di situlah serunya ELINS, penuh dengan penelitian.
Bergerak ke arah embedded system membawa saya ke dunia Linux dan serba-serbi customization-nya. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah embedded Linux. Bagaimana caranya melakukan porting sistem Linux ke dalam bentuk mikro adalah sebuah tantangan besar yang sedang saya kejar sejak setengah tahun lalu. Tapi untuk ke arah sana saya harus belajar dulu The Big Bos dari sistem Linux yaitu kernelnya. Kernel sangat kompleks dan referensi begitu banyak yang harus dibaca. Dengan waktu luang yang lumayan sedikit, saya lumayan tergopoh-gopoh masuk ke dalam area kernel. Tapi itulah sunnatullahnya belajar, SUSAH. Kalau belajar gak susah, ya gak bisa donk ... hehe .. dan alhamdulillah setiap hari selalu aja pusing (makanya kurus gw je ..hehe) karena kalau pusing berarti saya masih mikir, nah yang repot kalau udah gak pusing, berarti udah gak mikir, berarti pensiun donk tuh otak .. hehe ... jangan sampe deh. Target saya, akhir tahun ini sudah setengah dunia kernel saya kuasai .. hehe ..pede banget. Ya harus donk, mahasiswa ELINS gitu donk !! Seperti kata Pak Jazi : "Saya aja yang Fisika pede, masa ELINS nggak". Walah, mantap celetukannya nih Pak, siap!!!
Embedded system adalah salah satu bidang yang paling gress sekarang ini dan mahasiswa ELINS sangat dituntut untuk bisa "berenang:" di situ. Embedded system melibatkan aktifitas kontrol dan juga banyak aktifitas pengukuran yang tentu saja sangat penting untuk mendapatkan data-data dalam melakukan proses pengendalian. Tidak ada AC otomatis yang tidak melakukan pengukuran suhu setiap periode waktu tertentu, atau sistem penyiraman otomatis yang tidak mengukur kadar air dalam tanah. Dengan mengukur sejumlah quantity dari lingkungan, sebuah alat kontrol dapat mengambil tindakan tertentu terhadap suatu lingkungan atau alat yang lebih besar. Sederhana banget ya ELINS itu ?? Kata siapa sederhana ?? ya kata saya barusan ... hehehe ... Memang sederhana tapi dengan implementasi yang lumayan kompleks juga, tapi di situlah serunya ELINS, penuh dengan penelitian.
Bergerak ke arah embedded system membawa saya ke dunia Linux dan serba-serbi customization-nya. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah embedded Linux. Bagaimana caranya melakukan porting sistem Linux ke dalam bentuk mikro adalah sebuah tantangan besar yang sedang saya kejar sejak setengah tahun lalu. Tapi untuk ke arah sana saya harus belajar dulu The Big Bos dari sistem Linux yaitu kernelnya. Kernel sangat kompleks dan referensi begitu banyak yang harus dibaca. Dengan waktu luang yang lumayan sedikit, saya lumayan tergopoh-gopoh masuk ke dalam area kernel. Tapi itulah sunnatullahnya belajar, SUSAH. Kalau belajar gak susah, ya gak bisa donk ... hehe .. dan alhamdulillah setiap hari selalu aja pusing (makanya kurus gw je ..hehe) karena kalau pusing berarti saya masih mikir, nah yang repot kalau udah gak pusing, berarti udah gak mikir, berarti pensiun donk tuh otak .. hehe ... jangan sampe deh. Target saya, akhir tahun ini sudah setengah dunia kernel saya kuasai .. hehe ..pede banget. Ya harus donk, mahasiswa ELINS gitu donk !! Seperti kata Pak Jazi : "Saya aja yang Fisika pede, masa ELINS nggak". Walah, mantap celetukannya nih Pak, siap!!!
Langganan:
Postingan (Atom)