Kamis, 27 Desember 2007

Istighfar yang Paling Utama

"Tiada hari tanpa istighfar". Ungkapan itu sepertinya sangat cocok untuk menggambarkan betapa pentingnya istighfar bagi seorang muslim. Dalam sebuah kesempatan ketika saya membaca ringkasan shahih Bukhari, saya menemukan sebuah hadits yang mengungkapkan istighfar paling utama menurut Rasulullah Saw. Kira-kira haditsnya begini :

Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus r.a. bahwa Nabi Saw pernah bersabda : Bacaan istighfar yang paling utama adalah 'Allaahumma anta rabbii ... illaa anta'(Ya Allah! Engkaulah Tuhanku. Tiada tuhan Selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan menepati janjiku kepada-Mu dengan segala kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejelekan yang telah aku perbuat. Di hadapan-Mu aku mengakui nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan aku mengakui pula dosaku, maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosaku selain Engkau). Rasulullah Saw bersabda : "Siapa yang beristighfar seperti itu pada siang hari dengan penuh keimanan kemudian dia mati sebelum malam tiba, maka dia akan masuk surga, dan siapa yang beristighfar seperti itu pada malam hari dengan penuh keimanan kemudian dia mati sebelum pagi tiba, maka dia akan masuk surga". [H.R. Bukhari #6306]

Ada perasaan sedih ketika saya membaca ungkapan istighfar dalam hadits tersebut dan somehow dalam hati saya mengakui mengapa ungkapan tersebut menjadi ungkapan istighfar paling utama menurut Rasulullah Saw. Anyway, ada beberapa "point lebih" yang saya ambil dari ungkapan istighfar tersebut.

Kesadaran terhadap Allah SWT. Saya adalah muslim yang masih berusaha menanamkan kesadaran terhadap Allah SWT, karena kadang-kadang saya masih suka lupa kalau Allah SWT mengawasi saya. Mungkin juga banyak orang yang mengalami hal yang sama. Dalam ungkapan istighfar di atas terdapat pernyataan "... dan aku adalah hamba-Mu", frase-frase sebelumnya menguatkan pernyataan ini. Hal yang saya alami ini, menurut saya adalah contoh dari sebuah pernyataan "... dan aku adalah hamba-Mu" yang belum dalam dan menyeluruh. Ini adalah sebuah masalah serius tentunya, dan dengan membaca hadits tersebut setidaknya saya bisa lebih membuka pikiran saya untuk mengevaluasi kesadaran saya terhadap Allah SWT.

Mengingat janji. Timbul pertanyaan penting dalam hati saya : "berapa kali dalam sehari saya berjanji kepada Allah, dan berapa kali dalam sehari saya lupa mengusahakan janji-janji yang telah saya ikrarkan kepada Allah SWT ?". "... Aku akan menepati janjiku kepada-Mu dengan segala kemampuanku ...". Somehow kalimat inilah yang betul-betul membuat saya sedih. Ada dua hal yang terlintas dalam pikiran saya ketika mengucapkan kalimat itu. Hal pertama, banyak janji yang pastinya belum saya maksimalkan usahanya. Hal kedua, apakah sebagai muslim saya sudah berusaha sekuat mungkin dalam kehidupan ini ? Pada akhirnya, menurut saya, sangat penting untuk menanamkan kesadaran bahwa saya adalah muslim yang akan selalu berusaha semaksimal mungkin dalam kehidupan ini untuk mengusahakan apa saja.

Secara keseluruhan, ungkapan istighfar di atas mengingatkan saya untuk selalu mengungkapkan perasaan saya kepada Allah SWt setiap hari. Tidak ada tempat curhat terbaik selain Allah SWT, 'tul gak tuh ?:D. Dari curhat tersebut, secara tidak langsung saya dapat lebih menanamkan kesadaran bahwa "hey, gak ada tuhan selain Allah SWT, cuma kepada Dia gw bisa curhat sepenuhnya dalam hal apa aja, Dia yang paling bisa dipercaya di seantero alam semesta ini, dan gw akan terus berusaha agar menjadi hamba-Nya yang bertakwa dan bermanfaat untuk banyak orang di bumi ini".

Selasa, 11 Desember 2007

Bersyukur dengan "Kekurusan"

Hahahaha ... ketawa dulu deh. Bicara masalah kurus sama saja dengan debat kusir sepanjang masa tentang "duluan mana, telor apa ayam ?". Gimana gak, dari kecil sampe sekarang gak pernah bisa gemuk. Wess!! apa yang salah nih ? Teuing ah, udah capek mikirinnya. Saya memang termasuk orang yang susah sekali gemuk, biarpun makan 5 kali sehari selama setahun penuh pun gak akan ada pengaruhnya, sepertinya memang desain gennya begitu.


Dulu sempat stress lantaran banyak temen bilang "tambah kurus lu luf, kurang gizi ? apa banyak pikiran ?". Walah, macam-macam lah argumennya. Malahan beberapa kali sempat intens coba gemukin badan, mulai dari makan banyak, ngemil sering-sering, minum softdrink kebanyakan, makan yang pedes-pedes (kalau ini mah memang suka euy), tidur rada rajin, de el el lah pokoknya, tetep aja ... kurus bin langsung, hahaha. Tapi ah .. masih aja kepikiran, soalnya saya masih yakin bisa bikin "kemajuan" dari ukuran badan. Kayaknya liburan ini harus konsentrasi penggemukan lagi nih, mungkin nanti ditambah ngegame yang sering, nonton film komedi sampe muntah, sama main-main ke kost temen biar pikiran yang berat-berat bisa dibuang jauh-jauh kali ya.

Anyway, bagaimanapun, bentuk seperti ini yang Allah SWT kasih sekarang ini dan saya sangat bersyukur. Selain karena beban saya lebih ringan (jadi lebih lincah ... harusnya hehe ..), otak saya juga bisa dapat energi lebih buat mikir karena badan segini-gininya pasti ada sisa operasionalnya hehe ... (jangan-jangan kebanyakan mikir malah badannya gak kebagian ?). Alhamdulillah ... semua ada hikmahnya, semakin kita bersyukur, semakin "gemuk" keimanan kita. Amin.

Senin, 10 Desember 2007

Rokok ? Please deh ah ..!!

Merokok alias smoking atau kalau Ibu saya bilang nyetun sudah menjadi budaya paling hot sejak ratusan tahun lalu. Lama juga ya ... wuih. Dulu waktu masih kecil saya sering melihat kakek saya asik melinting rokoknya yang orang sunda bilang rokok kawung karena bahan pembungkusnya ya daun kawung. Berbeda dengan kakek saya, kepala dusun tempat saya KKN dulu menggunakan kertas rokok yang mungkin sudah cukup dikenal. Tapi tetap saja judulnya sama, "linting lagi .. hisap lagi .. linting lagi sekarang .. sekarang hisap lagi .. linting lagi sekarang". Satu hal yang menurut saya lucu, salah seorang teman KKN saya sempat coba rokok style-nya Pak Kadus dan dia bahkan tidak bertahan pada hisapan kelima hahaha ... sudah itu kebanyakan ngelintingnya dari hisapannya, walah .. jago rokok aja kalah, lucu lah pokoknya.

Anyway, biarpun rada lucu tapi budaya ini bukanlah suatu hal yang bagus untuk dilakukan dan saya sangat membencinya. Tapi kebencian saya kepada rokok masih belum apa-apa dibandingkan dengan bencinya saya kepada orang yang mengatakan rokok itu makruh. Sudah jelas rokok itu merusak masih dibilang makruh, ya haram lah bung. Akibatnya, banyak orang berdalih menggunakan alasan makruh itu untuk terus merokok ... dan ... merokok. Rokok lagi rokok lagi ... euy!

Allah SWT sudah menegaskan begini :

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan (Q.S. Al Baqarah : 205)

Nah, sudah jelas kan Allah SWT benci kerusakan dan kebinasaan. Itulah yang melandasi kenapa bunuh diri itu haram, sudah diberi nyawa malah membinasakan diri sendiri, gak bersyukur banget. Allah SWT membenci manusia yang tidak bersyukur, merusak : merusak lingkungan, merusak orang lain, atau merusak diri sendiri.

Rokok jelas-jelas merusak badan dan saya yakin seyakin-yakinnya semua perokok tahu itu. Karena sifatnya yang merusak maka rokok itu haram hukumnya, semua yang Allah SWT larang itu demi kebaikan manusia, jadi jelas keharaman rokok akan menyelamatkan manusia dari merusak dirinya sendiri dan otomatis akan menyelamatkan manusia dari kebinasaannya. Kok bisa ? Ya iya lah ... orang yang merokok paru-parunya akan rusak, pelan-pelan ... ujung-ujungnya biasa lah .. kanker dan gangguan jantung, sedangkan kedua hal itu adalah ancaman yang dapat mengganggu atau bahkan menghentikan kerja tubuh ... kalau tubuh sudah berhenti bekerja ya "lewat" lah orang yang bersangkutan, dengan kata lain binasa.

Satu lagi, para perokok itu dosanya minta ampun deh, sudah merusak diri sendiri, mereka juga ikut merusak orang lain dan bahayanya lebih besar lagi karena asap yang terhisap orang lain adalah "limbah" yang lebih bahaya lagi kalau "mampir" ke paru-paru. Ini salah satu yang membuat saya geram karena adik saya yang masih kecil beberapa tahun lalu sempat keracunan nikotin sampai-sampai harus dirawat di rumah sakit segala. Alhamdulillahnya saya sudah bisa nerapi waktu itu, jadi langsung pulang ke Bogor dan "turun tangan" biar adik cepat sembuh. Berengsek tu rokok !! Saya gak mau anak-anak seperti adik saya keracunan nikotin gara-gara gak sengaja menghisap asap rokok dari orang sekitar mereka. Seringkali saya kesel setiap ada orang dengan santainya menghembuskan asap rokok ke orang di sebelahnya, kalau gak sabar, itu orang sudah saya bikin semaput. Bagaimana tidak kesal, setiap liat rokok saya teringat wajah adik saya yang dulu dirawat di RS.

So, sudah lah, mari kita hentikan kebiasaan merokok itu, gak ada untungnya, malah banyak ruginya. Ingat saja, tanggung jawabnya berat nanti di akhirat. Rokok ? Please deh ah ... gak banget !!

Next Year Focus : "Electronic Reviews"

Beberapa tahun lalu saya membuat sebuah rencana jangka panjang untuk pengembangan skill pribadi, most of them don't really have direct relation to my lectures. Saya buat rencana tersebut ketika saya jatuh cinta dengan embedded system dan operating system. So, yes, they are my fields of interest.

As "written" in my "geeky" plan, next year there are two things which I gonna give focus on them, a lot. Those things are lectures and electronic reviews. Saya termasuk orang yang cukup disepelekan di program studi saya karena sosok saya "terlihat" terlalu melekat ke software. But that's fine, I don't really care about that, karena saya punya rencana yang harus saya jalankan, dan pada kenyataannya saya bukan orang yang membenci hardware bahkan saya sangat suka dengan dunia hardware, kenapa tidak ... toh saya fans berat dunia fisika, dan ELINS begitu erat dengan fisika baik software maupun hardwarenya, and that's a good thing to me.

Di awal masa kuliah saya banyak mencari tahu tentang dasar-dasar hardware, mostly digitals. Saya putuskan untuk berhenti sejenak setahun kemudian dan mulai fokus ke system programming karena saya melihat ada unsur "smart" dalam embedded system yang cukup perlu diperhatikan. Akan tetapi waktu itu cukup sulit untuk berpaling karena rasa penasaran saya terhadap hardware cukup tinggi. Untuk mengatasinya saya terpaksa tanamkan sebuah sugesti kuat ke dalam otak saya agar saya bisa tetap fokus di system programming. Sugesti itu bunyinya "Hardware itu tool dan system adalah inti pengembangan", dan begitulah sampai sekarang rencana itu masih berjalan dan seharusnya akhir semester ini semuanya berakhir. So .. sorry kalau ada yang menganggap saya "buta hardware", when we "meet" in the future I'll be ready for sure. insyaAllah.

Tahun depan aktifitas saya akan lebih condong ke arah framework "hardware and system soft development" dan bukan hanya "system soft development" seperti yang saya kerjakan satu setengah tahun ini, insyaAllah. Jadi, mengutip kata-katanya Bondhan : Talk is cheap, show us the code, saya hanya bisa bilang : We'll see what I can do.

Semoga Allah SWT selalu menempatkan saya di jalan orang-orang yang bertakwa dan membukakan pintu pemikiran saya lebih luas dan lebih dalam lagi agar saya bisa menjadi bermanfaat bagi orang banyak, amin.

Jumat, 07 Desember 2007

Perihal Mimpi : "Ketemu Miss Kunti Lagi"

Beberapa hari lalu saya (untuk kesekian kalinya) ketemu Miss Kunti lagi di mimpi. Ya, memang kadang-kadang suka begitu. Ceritanya pada suatu malam saya pergi ke suatu desa, tepatnya sedang ada di suatu desa kali ya. Trus sewaktu sedang jalan-jalan sama dua/tiga orang teman yang belum saya kenal saat ini (tidak ada yang kenal lebih tepatnya) salah seorang teman menunjuk ke arah rimbunan pohon bambu agak jauh di sebelah kanan, ada Miss Kunti ternyata. Lalu kok lama-lama Miss Kunti malah mendekat ya ... dan tanpa terasa singkat cerita Miss Kunti sudah di depan mata. Lalu, entah apa maksudnya, salah seorang teman mencoba "mengusir" Miss Kunti dan kehabisan tenaga, lalu spontan saya bantu dia sampai akhirnya itu Miss Kunti menyerah kalah.

Yah, memang ada ada saja itu mimpi. Tapi yang kemarin itu masih jauh lebih garink dibandingkan dua kejadian jauh hari sebelumnya. Nah, kalau yang ini kejadian nyata.

Kejadian pertama. Lokasi kejadian Kompleks Cisitu Indah, Dago, Bandung.Waktu kejadian jam 23.00 WIB kalau gak salah. Waktu itu saya habis latihan di kampus, pulang rada malam karena sibuk ngobrol atau apa gitu lupa, dan sempat mampir ke warnet dulu kalau gak salah. Berhubung saya hobi jalan, jadi sambil pulang ya sambil "menikmati" kegelapan jalan ke arah kost saya di Cisitu Indah IV. Tiba-tiba di sebuah belokan gak jauh dari gerbang masuk dari atas pohon terdengar suara cekikikan dengan frekuensi dan nada tinggi. Wuih, mantap lah, lumayan mengintimidasi, cekikikan yang di TV/film ternyata gak begitu pas dengan kenyataannya. Singkat cerita, beberapa saat setelah suara Miss Kunti muncul sistem perlindungan aktif dan saya hanya sempat melihat kelebatan putihnya Miss Kunti ketika kabur dari pohon lebat di depan saya. Lucunya lagi Miss Kunti kabur ke arah kost saya dan anjing-anjing rumah depan kost saya seketika melolong bak serigala, halah ... kyak di film film jadinya. Nah, seperti kebanyakan orang yang pertama kali ketemu Miss Kunti, saya dengan penasaran tapi rada was was melanjutkan perjalanan pulang sambil plangak plongok ke atas, tapi Miss Kunti tidak kelihatan, alhamdulillah ..... hehe ...

Kejadian kedua. Lokasi kejadian Sendowo, Yogyakarta. Saya yang sedang tertidur pulas tiba-tiba terjaga ketika merasakan seperti ada orang yang bernapas di depan muka. Seperti biasa, saya sempat pikir-pikir sebentar dalam hati tanpa membuka mata terlebih dahulu. Kemudian setelah yakin itu bukan mimpi saya buka mata dan "agak kaget" saya melihat kelebatan putih menjauh keluar dari hadapan saya ke arah pintu dan kemudian menghilang ke arah kanan. Dari kelebatannya sih mirip pocong, tapi gak tau juga, namanya juga kelebatan, kan cuma bentuk alias samaran. Tanpa pikir panjang saya langsung tidur saja, ngapain juga ngurusin yang begituan.

Ya, hikmahnya sih berhubung Iblis adalah musuh kita bersama, jadi gak usah minder sama anak buahnya yang suka nampang di sekitar kita, cuekin aja lah. Asal gak ganggu aja, kecuali kalau udah keterlaluan ya harus ditindak karena manusia itu jauh lebih hebat dari Iblis dan anak buahnya, so keep fighting, tetap lawan mereka sampe kiamat menjelang ...semangat euy !

Rabu, 05 Desember 2007

Connecting Dots in My Life : "Gitar untuk pembenci musik"

Tiba-tiba saya teringat salah satu titik balik hidup ketika berkunjung ke websitenya GIGI. Gitar ... satu kata itu yang terlintas di benak saya saat itu. Gitar menjadi salah satu penentu yang membuat saya seperti sekarang ini. Saya kenal gitar ketika kelas 1 SMP (SMPN 1 Bogor a.k.a Spenza), waktu itu ada temen yang belajar gitar dan kebetulan juga ada gonjang-ganjing kalau di awal kelas dua nanti setiap siswa akan ditest alat musik, anything lah, pokoknya musik. Ada beberapa titik kecil yang saya ingat.

Sang Pembenci Musik. Saya termasuk manusia yang benci sama musik waktu itu. Pokoknya yang namanya musik tuh gak layak lah masuk ke telinga saya, lebih baik saya main kelereng, layangan, gatrik, cing benteng, atau nongkrong di sawah daripada harus dengar musik, terutama dangdut hehe .. kalau yang ini sampe sekarang juga gak begitu suka.

Ananto Yudi Hendrawan.
Sobat saya yang satu ini adalah inspirator pertama saya untuk belajar gitar. Kok bisa ? Saya juga lupa pastinya kenapa, intinya mah ikut-ikutan.

40 ribu. Pertama kali saya beli gitar (tepatnya sih Ibu yang belikan) harganya 40 ribu, belinya di toko sport sebelah stasiun. Apa ya namanya ? lupa euy. Pokoknya gitar ini benar-benar gitar perjuangan lah. Satu hal yang bagus dari gitar ini, warnanya keren (awalnya sih hehe ..), biru agak metalik gitu deh.

Nugie : "Burung Gereja". Ini lagu pertama yang saya mainkan dengan gitar 40 ribu itu, sampe sekarang lagu ini punya "jejak khusus" di hati saya.


C Major
. Itu chord dan scale pertama yang saya pelajari, salah satu andalan basic scale yang sampe sekarang saya pakai. Saya tidak begitu ingat prosesnya, tapi ada satu kesalahan yang mulai saya sadari sewaktu mulai belajar scale : fingering. Saya sama sekali belum latihan fingering sekalipun, picking aja gak kenal, walah ... padahal itu crusial banget buat speed dan integritas permainan. Apa yang terjadi, ya saya cuek aja ... wakakakak!

PARAS. Ini band pertama saya. Pertama kali diajak temen ikut latihan gara-gara salah-satu personilnya sibuk ngurusin cewenya haha ... maklum lah anak SMP. Di band ini saya dan personil lain punya satu selera yang sama : GIGI. Saya kenal gitar listrik pertama kali ya dari band ini, mulai tahu efek gitar dan perlengkapan band lainnya. PARAS bertahan pada corak musik pop alternatif.


Ape !. Temen saya yang satu ini yang ngajak saya pertama kali latihan bareng PARAS. LAma-lama malah sering diajak, eh si Puja malah gak datang-datang lagi, ya akhirnya bergabung sudah saya deh. AP adalah salah satu inspirator saya untuk belajar arpeggio alias petik-memetik dawai .. halah .. Dulu saya sering liatin dia metik gitar hehe, thanks Pe!

Supri. Nah, ini gitaris #1 di PARAS, kerjaannya ngurus melodi tapi jarang tau chord-nya hahaha, dasar aneh. Dia ini inspirator pertama saya untuk belajar scale. Saya ingat betul suatu saat dia main gitar di balkon kelas, waktu itu dia metik gitar pakai 4 jari, hehehe ... saya aja waktu itu baru belajar pakai 2 jari, eh dia udah empat.

150 ribu. Gitar kedua saya kira-kira harganya segitu, buatan Bandung. Gitar ini termasuk istimewa buat saya karena menemani saya di beberapa fase perjalanan musik saya. Tapi yang lebih seru, gitar ini pernah patah sampe 3 kali. Biar bisa berfungsi lagi saya harus pakai lem kayu super kuat plus gencetan meja belajar super berat selama beberapa hari. Alhasil sampai bertahun-tahun gitar itu masih saja ok lah.

Ujian Praktek. Pertama kali saya manggung ya di sini, ujian praktek kesenian. Waktu itu saya dan rekan-rekan main Hotel California dari Eagles, Jogjakarta dari Kla Project, dan satu lagi juga punya Kla Project tapi lupa judulnya. Di sini saya akustikan, so calm lah ...

BV. Ini band kedua saya, waktu itu Rangga (kelas 2) ngajak saya (si anak baru) buat main di bandnya. Di Band inilah pertama kali saya kenal musik yang "agak keras", Metallica. Saya diajak main untuk acara SMUNSA Day, acara tahunan yang tajuknya ulang tahun sekolah. Dan ... mulai dari sini saya rada serius latihan fingering. BV mainkan dua lagu waktu itu, Unforgiven - Metallica + RHCP yang syairnya kayak gini : "how long .. how long ...". Dari band ini juga sebagian temen tahu kalau ada gitaris namanya Lufty di kelas 1, hehe .. lumayan.

Mohan dkk. A revolutional band. Awal mula saya menjadi ngeblend dan jatuh cinta sama musik-musik metal ya dari band ini. Saya gabung di band ini akhir kelas 1. Waktu itu ada acara perpisahan di Pulau Bidadari dan malamnya ada pentas seni alias ngeband lah begitu. Saya sendiri gak menyangka dan sempat kaget karena band ini adalah band kunci yang membuat suasana acara "panas" dan meriah. Gimana gak panas, acara lagi kalem-kalemnya, tiba-tiba di bikin ribut sama lagu Freak on A Leash - Korn + Take A Look Around - Limpbizkit. Bahkan temen saya Godelz sampe kepeleset waktu asik loncat-loncatan di panggung. Walah, rusuh abis lah. Tapi yang paling lucu, teknisi peralatan band sampe was-was gara-gara ngeliat Maul sang drummer bikin drum pontang-panting (sampe matahin stick segala) dan panggung rada-rada goyang begitu hehe ... Maul sang drummer bilang begini di fs saya :
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pulau Bidadari, Juli 2000, 20.30 WIB.
Pertunjukan dibuka dengan Lagu Falls Apart-nya Sugar Ray. Penonton menanggapi biasa aja, seperti halnya band2 sebelumnya.
Suddenly, situasi berubah 180 derajat. The audience was stunned begitu lagu Freak On A Leash-nya KoRn meluncur dari atas panggung. Rusuh abis. Penonton mulai nggak terkontrol dan secara spontan membentuk mosh pit.
Pertunjukan ditutup dengan lagu Take A look Around-nya Limp Bizkit. Kerusuhan memuncak. Penonton saling dorong, saling sikut, moshing. The situation was out of control.
Pertunjukan selesai. Penonton berebutan menyalami pemain band. Nggak ada yang menyangka kalau band tersebut baru dibentuk seminggu sebelumnya. Dan itulah THE BEST PERFORMANCE malam itu. Nama band itu MOHAN dkk.
Mohan (vokal), Maulana (drum), Mamat (bass), Lufty (gitar), Lintang (vokal), Yon (keyboard)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

GIGI. Band ini yang menjadi inspirasi saya selama ini, gak ada gantinya lah. Spirit bermusik saya selalu datang dari sini. Saya mulai suka GIGI sejak kelas 1 SMP, tidak lama setelah mulai belajar gitar. Sampai sekarang inilah salah satu band terbaik yang ada.

Dewa Budjana. Pertama kali tertarik sama GIGI karena lihat Dewa Budjana main di video klip terbang album Kilas Balik. Waktu itu jatuh cinta sama gitarnya yang Klein warna biru, seksi banget tuh gitarnya. Sampe sekarang saya masih mengikuti musik-musiknya Dewa Budjana dan memang influencenya banyak sekali ke gaya permainan gitar saya sekarang ini.

Linkin Park. Satu lagi band inspirator saya. Satu yang sangat menarik dari mereka buat saya adalah cara mereka mengungkapkan hal-hal sedih dan pilu dengan sentuhan musik "keras". Benar-benar "kena" di hati ...

Satu hal yang menarik dari perjalanan saya dengan musik adalah transformasi total pola pikir saya dari "pembenci musik" menjadi "peminat musik", dan semua itu karena hadirnya sebuah gitar dalam hidup saya. So, "little thing does changes someone a lot."

Selasa, 04 Desember 2007

"Mengantongi" Sampah

Saya termasuk orang yang sejak kecil membiasakan diri untuk membuang sampah pada tong sampah/tempat sampah/bak penampungan sampah/waste basket or whatever else lah sebutannya. I don't use the term 'buang sampah pada tempatnya' kerena frase tersebut bisa cukup menjebak, kenapa ? karena tidak semua orang berpikir bahwa bak sampah/tong sampah adalah tempat membuang sampah. Sebagian orang berpikir toilet adalah tempat membuang sampah, sebagian orang berpikir wastafel, sebagian orang berpikir sungai juga tempat membuang sampah, dan ternyata banyak juga orang yang berpikir kamarnya sendiri sebagai tempat membuang sampah. So, menurut saya kalmat 'buanglah sampah pada tempatnya' agak membingungkan juga. Lebih tepat mungkin kalimat tersebut menjadi 'buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan' which is widely used on some place.

Membuang sampah memang harus dibiasakan dan dilatih sejak kecil, masalahnya adalah membuang pada tempat yang tepat atau tidak. Nah, pilihan ini akan menentukan pribadi seseorang karena berawal dari kebiasaan yang berulang-ulang lama-kelamaan akan menjadi sebuah karakter/watak. Saya sejak kecil membiasakan diri untuk 'memaksakan diri' membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dan kalau tidak ada tempat tersedia yang saya temui maka terpaksa sampah itu saya bawa-bawa atau saya kantongi saja. Berawal dari kebiasaan ini ternyata tidak perlu usaha berat saat ini untuk membuang sampah dengan benar. Karena sudah biasa, sudah jadi karakter, jadi terasa ringan implementasinya.

Melihat keadaan sungai di Jakarta dan daerah sekitarnya (termasuk Bogor kota indah sejuk nyaman ...), saya melihat salah satu akar masalah yang perlu diperbaiki adalah karakter masyarakat berkaitan dengan sampah. Sekali lagi, berawal dari kebiasaan yang berulang-ulang lama-kelamaan akan menjadi karakter individu. Nah, dengan demikian dalam konteks ini kita lebih "berbicara" masalah pendidikan moral, bukan masalah kanal banjir timur dan barat. Ketika masyarakat sudah bisa "menertibkan" kebiasaan membuang sampahnya, maka tidak ada sungai yang menjadi "habitat" sampah. Saya katakan "habitat" karena sampah di sungai lama-lama akan berlanjut menjadi habitat tertentu, entah penyakit, virus, atau organisme-organisme lain yang merugikan. Jadi, kembali ke pendidikan, masyarakat perlu menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempat yang disediakan pada generasi muda sejak mereka kecil, dan kebiasaan itu harus dijaga sampai kapanpun juga, sehingga lama-kelamaan akan menjadi karakter mereka di kemudian hari. Kalau sejak kecil dilatih membuang sampah sembarangan maka di kemudian hari mereka juga akan cenderung terus-menerus menyepelekan sampah dan pada akhirnya menghasikan orang-orang yang sembarangan, sembrono, dan terlalu menyepelekan sesuatu.

Ini hanyalah salah satu PR bangsa Indonesia yang harus dibenahi lagi, karena banyak kebiasaan negatif masyarakat yang malah menjadi sumber masalah besar, dan kebanyakan adalah kebiasaan-kebiasaan sederhana yang mungkin dipandang banyak orang sepele. Lihat dan ingatlah bagaimana negara-negara lain menjadi maju dari menjaga kebiasaan-kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempat yang disediakan. Kalau itu belum cukup, ingat saja bahwa setiap sampah yang kita buang sembarangan harus dipertanggungjawabkan di akhirat ... dan itu pasti!

Minggu, 02 Desember 2007

"Parkir Sendal" di "Atas Sendal"

Inilah salah satu kebiasaan banyak orang Indonesia yang selalu saya lihat di manapun dan kapanpun. Saya dengan bangga ingin mengatakan I HATE THIS ATTITUDE !!!. Sering saya lihat orang-orang dengan mudahnya melepaskan sendal mereka tanpa lihat-lihat kondisi sekitar, apakah ada sendal lain atau tidak ? Akibatnya, sangat sering saya lihat ada sendal "parkir" di atas sendal. Please donk ah, mana budaya bersihnya ?

Apa fungsi sendal sih ? Ya, banyak, bisa buat orang kelilipan, buat gebuk kasur, ganjel pintu, sedot WC (halah ?), ngepel, ngulek sambel, dll. Tapi yang biasa kita lihat kan sendal adalah sebuah alas kaki yang fungsinya melindungi kaki dari kotoran di lantai/jalan. Jadi kalau ada "ranjau" gak akan langsung "meresap" ke kulit kaki, tapi ke "kulit" sendal, sehingga kaki selalu bersih.. Nah, karena fungsi utamanya inilah seharusnya sendal itu "diparkir" dengan baik dan rapih, jangan sampai ada sendal "parkir" di atas sendal lain. Kalau begitu kejadiannya, kotoran di sendal yang seenaknya "parkir" akan "mencemari" sendal yang "dizhaliminya". Nah, kalau sudah begitu, sendal korban kan jadi kotor dan kaki korban juga kotor, sehingga ke mana-mana akan "menularkan" kekotoran juga. Walah, repot tuh kalau gitu, dampaknya bisa global. Bagaimana kalau sampai di rumah belum sempat dicuci, kaki korban tersebut "menandai eksistensinya" di lantai, dan .... walah ... dsb .. dsb lah ...

Intinya dari tulisan ini saya ingin mengajak siapapun di negara ini untuk mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tak terasa dampaknya bisa lebih besar dari "kesepelean" yang terlihat. Seperti contoh di atas, tidak ada salahnya kalau kita mencontoh orang-orang Jepang yang punya kebiasaan "memarkir" sendalnya dengan rapih, jadi bersih. Dari kebiasaan kecil merapihkan dan menertibkan "parkir" sendal lama-lama akan membangun karakter rapih, bersih, dan peduli. Saya rasa itu adalah hal positif yang perlu dimiliki bangsa yang ingin maju.

Sabtu, 01 Desember 2007

Kikir Dua Rangkap

Saya teringat satu eksperimen "bodoh" saya beberapa tahun lalu sebelum saya pindah kuliah ke Jogja. Pikir saya mumpung di Bandung kikir lumayan mudah di cari (saya lupa nama daerahnya), siapa tahu di Jogja susah cari kikir (... dan memang susah juga cari kikir di sini). Alhasil dari pikiran "bodoh" itu, setelah "kikir dua jarak" berhasil ditaklukkan, saya putuskan mencoba "kikir dua rangkap". Saya masih ingat betul apa yang sering saya gumamkan sewaktu melihat sasaran : "dipikir-pikir tebal juga ya". Hahaha .. padahal itu pikiran yang harus dibuang ketika berurusan dengan benda keras. Alhasil saya latihan beberapa hari sendiri sampai akhirnya "berhadapan" juga pada suatu malam di salah satu tempat paling pewe buat ngeceng di ITB, manalagi selain TVST !.

Saya ingat betul waktu itu saya agak lama mondar-mandir di depan target sambil menenangkan pikiran yang makin gak karuan, payah juga nih. Sampai akhirnya saya berhenti dan mulai ambil posisi, kumpulkan TD di tangan, dan ... BRAKKKK!!!!!!!! sial!! gak patah bo', wakakkak!. Dari pukulan pertama, semua grogi akhirnya hilang ... abisss lah pokoknya, dan seperti pada kebanyakan pematahan yang saya lakukan, "saya mau coba lagi" hehe. Percobaan kedua sama saja, gak patah-patah, walah. Akhirnya percobaan ketiga, posisi saya ubah dikit, dan ... BRAKK!!! suara lebih keras ... tapi, halah !! yang menghantam kikir malah pergelangan tangan, ampun DJ ! rada ngilu euy ... ya salah "posisi mendarat" menandakan akhir percobaan hehe ... semua TD otomatis ngumpul di tangan dan alhamdulillah gak ada yang retak, dua hari kemudian alhamdulillah udah bisa dipake mukul lagi .. hehe .. lain kali saya coba lagi dan "harus patah".

Satu pelajaran yang saya dapat di situ, SANTAI AJA, JANGAN BURU-BURU ...

Install Windows Lagi

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya saya putuskan untuk menginstall Windows XP di komputer saya. Alhasil, ada dua sistem operasi yang "bertengger" di sana, Linux sebagai sistem operasi utama, dan Windows kalau memang ada perlunya saja. Tadinya saya juga ingin menginstall Solaris dari Sun Microsystem, tapi karena saya belum butuh jadi nanti saja deh. Windows XP yang saya install saya tujukan untuk beberapa kebutuhan :

Project elNimo
Saya sedang meneruskan project KKN saya mengenai program pembelajaran untuk mobile device. Project itu saya rencanakan untuk restrukturisasi ulang mulai dari desain karena program hasil KKN desainnya acak-acakan (maklum .. gak konsen, bercampur sama kegiatan di dusun). Salah satu permasalahan yang muncul dari program sebelumnya adalah optimasi. Modul image viewer saya program agar bersifat "auto resize" karena saya menggunakan Linux untuk lingkungan produksinya. Sifat "auto resize" ini cukup menguntungkan karena image akan ditampilkan dalam ukuran proporsional pada beragam ukuran LCD. Tapi ada sedikit "trade off" di situ dari sudut pandang kecepatan dan kualitas gambar. Jadi, insyaAllah saya akan mengubah desain sedikit agar trade off -nya minimal, dan untuk itu saya perlu test langsung di emulator khusus untuk device tertentu yang kebetulan berjalan pada platform Windows (kenapa developer gak mau port ni emulator ke *nix ya ..).

Kuliah PSD
Minggu kemarin saya mulai mengerjakan tugas pengganti praktikum kuliah Pemrosesan Sinyal Digital menggunakan Scilab. Lumayan menyenangkan, dan hasil laporannya pun lebih banyak dari teman-teman yang lain, hehe .. Tapi keliatannya dosen kuliah tersebut kurang begitu "antusias" melihat mahasiswanya menggunakan Scilab. Saya pikir juga tidak ada salahnya menggunakan Matlab, jadi menguasai keduanya adalah sebuah tantangan baru. Saya sudah coba install Matlab untuk Unix tapi karena licence-nya expired maka gagal sudah. Mungkin nanti akan saya coba akali, kalau ada waktunya. Nah, berhubung adanya Matlab untuk Windows sekarang ini saya gunakan saja dulu yang itu.

Simulator Elektronik
Selama ini saya belajar elektronik menggunakan simulator di Linux. Saya akui memang masih cukup kurang, walaupun secara fundamental sudah memenuhi kebutuhan saya. Tapi mudah-mudahan project Fedora Electronic Lab bisa menambah kekuatan Linux dalam dunia elektronik. Sementara itu, saya punya pikiran untuk mencoba simulator yang ada di Windows, mungkin ada nilai lebih yang bisa saya ambil di sana.

Splinter Cell
Hehehe .... Saya adalah penggemar berat dua game yang lumayan terkenal di Windows, yaitu Splinter Cell dan Simcity. Splinter cell sangat menarik buat saya karena sepanjang game saya harus berpikir keras untuk menyelesaikan misi. Pura-pura jadi agen yang menyelinap sana-sini lumayan seru juga. Pertama kali saya kenal game ini sewaktu di Bandung, saya sering main menggunakan komputer teman kost (Lintang Adi Pradana a.k.a Godelz) yang sekarang sedang hijrah ke Aussie. Simcity lebih ribet lagi, untuk mengembangkan satu kota kecil saja bisa makan waktu berhari-hari, dan satu kesalahan kecil bisa menjatuhkan kota dan penduduk demo di mana-mana, capek deh ... tapi memang dari sini saya belajar begitu susahnya jadi pemimpin dan penata kota. Para pejabat harusnya ditest pake game ini kayakya hehe ...

Pertanyaan yang sering terlintas dalam pikiran saya beberapa hari ini adalah "bagaimana dengan Wine ?". Wine is a good translator from Windows platform to *nix. Tapi tetap saja lingkungan native lebih baik untuk beberapa urusan, secara prinsip dalam sistem operasi, hukum tersebut pasti berlaku.

Saya pikir untuk tahun terakhir ini saya akan coba bertahan menggunakan Windows yang terang-terang bajakan untuk beberapa pekerjaan, dan kalau nanti ada uang lebih mungkin nanti saya coba beli yang original, atau mungkin beli Mac aja ya .. hehe .. itu juga sempat terpikir tuh. Lagipula saya gunakan Windows ini untuk beberapa kegiatan produksi saja .. sisanya pake Linux donk!

Jumat, 30 November 2007

Why I Use Linux ?

Linux ? Makanan apaan tuh ? Linux adalah sebuah sistem operasi berkualitas tinggi yang sekarang sudah layak disebut sebagai saingannya Windows. Salah satu hal yang menarik dari Linux adalah sifat sistemnya yang terbuka. Terbuka a.k.a. open source adalah satu filosofi yang sangat menarik perhatian saya beberapa tahun lalu. Walaupun saya sudah kenal Linux dari kelas 2 SMA (kira-kira tahun 2000), tapi konsep open source baru saya sadari betul sewaktu saya mulai kuliah di UGM. Menurut saya, konsep open source dengan open community-nya adalah sebuah produk powerfull yang dapat memberikan alternatif bagus selain produk closed source.

Saya termasuk orang yang "hobi ngoprek" alias terima bongkar tapi terima pasangnya kadang-kadang hehe... Jadi yang sangat menarik dari Linux adalah "kesediaannya" untuk dibongkar-bongkar. Wah, serasa dapat mainan baru lah pokoknya. Buat saya, semakin kompleks dan rumit Linux malah mendatangkan lahan pembelajaran baru dan makin membuat saya betah saja di lingkungan Linux.

Konsep open community juga begitu memberi sumbangsih berarti bagi pola pikir saya. Di dalam komunitas open source, semua programmer bekerja dalam tingkat keseriusan tinggi walaupun mereka tidak dibayar dan bekerja mengandalkan waktu luang mereka di tengah-tengah kesibukan. Saya begitu tersentak ketika membaca motto para pengembang software open source di sebuah artikel beberapa tahun lalu : "Lakukan dengan baik atau tidak sama sekali". Wow, saya belajar satu hal terpenting di sini, etos kerja, dengan atau tanpa dibayar. Dengan etos kerja tinggi, bahkan uang sekalipun akan datang menghampiri kita, karena tentu saja orang-orang yang dibutuhkan di dunia kerja adalah orang-orang dengan etos kerja yang cukup tinggi.

Open source juga mengajarkan saya tentang menghargai orang lain. Setiap kontributor dalam komunitas open source tidak akan pernah mengakui satu baris kode pun yang ditulis orang lain sebagai miliknya. Walaupun sebuah program dibuat oleh programmer A, kemudian dimodifikasi oleh programmer B, maka programmer B tetap akan menuliskan programmer A sebagai pembuatnya dan bahkan memberikan patch program tersebut ke pembuat awalnya untuk dievaluasi. Begitu besar hubungan kerja sama di dalam komunitas bahkan sampai menciptakan sebuah kedekatan di antara kontributor, dan ini adalah suatu budaya yang sangat bagus.

Dari Linux saya juga belajar untuk tidak mengeluh. Dengan begitu banyaknya kendala saat menggunakan Linux (terutama pada awal-awal dulu sebelum Linux semudah ini) saya dituntut untuk selalu berpikir positif dan tegar agar kendala yang saya hadapi dapat diselesaikan. Dari kebiasaan ini, mental berpikir saya menjadi semakin keras yang menurut saya membawa dampak positif bagi proses belajar saya sekarang ini.

Linux juga mengajarkan saya banyak hal tentang sistem operasi, dan tidak hanya itu, banyak konsep pemikiran yang saya dapatkan di sini, terutama tentang desain sistem dan hubungan antar komponen dalam sistem, dan masih banyak lagi, termasuk konsep sabar. Kalau gak belajar sabar saya pasti sudah meninggalkan Linux dari jauh-jauh hari. Banyak lah pokoknya .... intinya saya sangat suka dengan sistem operasi ini karena selalu memberikan hal-hal positif untuk saya dan tentu saja ada peluang ibadah di sini ... dalam dunia open source.

Lebih ke dalam Kernel

Saya termasuk salah satu orang yang paling beruntung di dunia karena pada akhir tahun ini saya mulai mempelajari "dalamnya" kernel Linux. Bagi hampir kebanyakan mahasiswa ELINS UGM, materi sistem operasi bukanlah suatu hal yang penting. Saya adalah salah satu dari salah beberapa orang yang menganggap penting sistem operasi dalam bidang ELINS. Mengapa ? Sederhana saja, karena saya pengikut setia Pak Jazi, lho ... hahaha .. bercanda. Saya setuju dengan konsep Pak Jazi tentang pengertian bidang ELINS yang beliau sampaikan pada salah satu kuliahnya dulu. ELINS meliputi embedded system dan pengukuran. Wah, dalam juga ya, dan perkataan beliau memberikan inspirasi besar dalam pembelajaran saya selama ini..

Embedded system adalah salah satu bidang yang paling gress sekarang ini dan mahasiswa ELINS sangat dituntut untuk bisa "berenang:" di situ. Embedded system melibatkan aktifitas kontrol dan juga banyak aktifitas pengukuran yang tentu saja sangat penting untuk mendapatkan data-data dalam melakukan proses pengendalian. Tidak ada AC otomatis yang tidak melakukan pengukuran suhu setiap periode waktu tertentu, atau sistem penyiraman otomatis yang tidak mengukur kadar air dalam tanah. Dengan mengukur sejumlah quantity dari lingkungan, sebuah alat kontrol dapat mengambil tindakan tertentu terhadap suatu lingkungan atau alat yang lebih besar. Sederhana banget ya ELINS itu ?? Kata siapa sederhana ?? ya kata saya barusan ... hehehe ... Memang sederhana tapi dengan implementasi yang lumayan kompleks juga, tapi di situlah serunya ELINS, penuh dengan penelitian.

Bergerak ke arah embedded system membawa saya ke dunia Linux dan serba-serbi customization-nya. Salah satu yang membuat saya tertarik adalah embedded Linux. Bagaimana caranya melakukan porting sistem Linux ke dalam bentuk mikro adalah sebuah tantangan besar yang sedang saya kejar sejak setengah tahun lalu. Tapi untuk ke arah sana saya harus belajar dulu The Big Bos dari sistem Linux yaitu kernelnya. Kernel sangat kompleks dan referensi begitu banyak yang harus dibaca. Dengan waktu luang yang lumayan sedikit, saya lumayan tergopoh-gopoh masuk ke dalam area kernel. Tapi itulah sunnatullahnya belajar, SUSAH. Kalau belajar gak susah, ya gak bisa donk ... hehe .. dan alhamdulillah setiap hari selalu aja pusing (makanya kurus gw je ..hehe) karena kalau pusing berarti saya masih mikir, nah yang repot kalau udah gak pusing, berarti udah gak mikir, berarti pensiun donk tuh otak .. hehe ... jangan sampe deh. Target saya, akhir tahun ini sudah setengah dunia kernel saya kuasai .. hehe ..pede banget. Ya harus donk, mahasiswa ELINS gitu donk !! Seperti kata Pak Jazi : "Saya aja yang Fisika pede, masa ELINS nggak". Walah, mantap celetukannya nih Pak, siap!!!