Saya termasuk orang yang sejak kecil membiasakan diri untuk membuang sampah pada tong sampah/tempat sampah/bak penampungan sampah/waste basket or whatever else lah sebutannya. I don't use the term 'buang sampah pada tempatnya' kerena frase tersebut bisa cukup menjebak, kenapa ? karena tidak semua orang berpikir bahwa bak sampah/tong sampah adalah tempat membuang sampah. Sebagian orang berpikir toilet adalah tempat membuang sampah, sebagian orang berpikir wastafel, sebagian orang berpikir sungai juga tempat membuang sampah, dan ternyata banyak juga orang yang berpikir kamarnya sendiri sebagai tempat membuang sampah. So, menurut saya kalmat 'buanglah sampah pada tempatnya' agak membingungkan juga. Lebih tepat mungkin kalimat tersebut menjadi 'buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan' which is widely used on some place.
Membuang sampah memang harus dibiasakan dan dilatih sejak kecil, masalahnya adalah membuang pada tempat yang tepat atau tidak. Nah, pilihan ini akan menentukan pribadi seseorang karena berawal dari kebiasaan yang berulang-ulang lama-kelamaan akan menjadi sebuah karakter/watak. Saya sejak kecil membiasakan diri untuk 'memaksakan diri' membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dan kalau tidak ada tempat tersedia yang saya temui maka terpaksa sampah itu saya bawa-bawa atau saya kantongi saja. Berawal dari kebiasaan ini ternyata tidak perlu usaha berat saat ini untuk membuang sampah dengan benar. Karena sudah biasa, sudah jadi karakter, jadi terasa ringan implementasinya.
Melihat keadaan sungai di Jakarta dan daerah sekitarnya (termasuk Bogor kota indah sejuk nyaman ...), saya melihat salah satu akar masalah yang perlu diperbaiki adalah karakter masyarakat berkaitan dengan sampah. Sekali lagi, berawal dari kebiasaan yang berulang-ulang lama-kelamaan akan menjadi karakter individu. Nah, dengan demikian dalam konteks ini kita lebih "berbicara" masalah pendidikan moral, bukan masalah kanal banjir timur dan barat. Ketika masyarakat sudah bisa "menertibkan" kebiasaan membuang sampahnya, maka tidak ada sungai yang menjadi "habitat" sampah. Saya katakan "habitat" karena sampah di sungai lama-lama akan berlanjut menjadi habitat tertentu, entah penyakit, virus, atau organisme-organisme lain yang merugikan. Jadi, kembali ke pendidikan, masyarakat perlu menanamkan kebiasaan membuang sampah pada tempat yang disediakan pada generasi muda sejak mereka kecil, dan kebiasaan itu harus dijaga sampai kapanpun juga, sehingga lama-kelamaan akan menjadi karakter mereka di kemudian hari. Kalau sejak kecil dilatih membuang sampah sembarangan maka di kemudian hari mereka juga akan cenderung terus-menerus menyepelekan sampah dan pada akhirnya menghasikan orang-orang yang sembarangan, sembrono, dan terlalu menyepelekan sesuatu.
Ini hanyalah salah satu PR bangsa Indonesia yang harus dibenahi lagi, karena banyak kebiasaan negatif masyarakat yang malah menjadi sumber masalah besar, dan kebanyakan adalah kebiasaan-kebiasaan sederhana yang mungkin dipandang banyak orang sepele. Lihat dan ingatlah bagaimana negara-negara lain menjadi maju dari menjaga kebiasaan-kebiasaan kecil seperti membuang sampah pada tempat yang disediakan. Kalau itu belum cukup, ingat saja bahwa setiap sampah yang kita buang sembarangan harus dipertanggungjawabkan di akhirat ... dan itu pasti!
Selasa, 04 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar