Rabu, 05 Desember 2007

Connecting Dots in My Life : "Gitar untuk pembenci musik"

Tiba-tiba saya teringat salah satu titik balik hidup ketika berkunjung ke websitenya GIGI. Gitar ... satu kata itu yang terlintas di benak saya saat itu. Gitar menjadi salah satu penentu yang membuat saya seperti sekarang ini. Saya kenal gitar ketika kelas 1 SMP (SMPN 1 Bogor a.k.a Spenza), waktu itu ada temen yang belajar gitar dan kebetulan juga ada gonjang-ganjing kalau di awal kelas dua nanti setiap siswa akan ditest alat musik, anything lah, pokoknya musik. Ada beberapa titik kecil yang saya ingat.

Sang Pembenci Musik. Saya termasuk manusia yang benci sama musik waktu itu. Pokoknya yang namanya musik tuh gak layak lah masuk ke telinga saya, lebih baik saya main kelereng, layangan, gatrik, cing benteng, atau nongkrong di sawah daripada harus dengar musik, terutama dangdut hehe .. kalau yang ini sampe sekarang juga gak begitu suka.

Ananto Yudi Hendrawan.
Sobat saya yang satu ini adalah inspirator pertama saya untuk belajar gitar. Kok bisa ? Saya juga lupa pastinya kenapa, intinya mah ikut-ikutan.

40 ribu. Pertama kali saya beli gitar (tepatnya sih Ibu yang belikan) harganya 40 ribu, belinya di toko sport sebelah stasiun. Apa ya namanya ? lupa euy. Pokoknya gitar ini benar-benar gitar perjuangan lah. Satu hal yang bagus dari gitar ini, warnanya keren (awalnya sih hehe ..), biru agak metalik gitu deh.

Nugie : "Burung Gereja". Ini lagu pertama yang saya mainkan dengan gitar 40 ribu itu, sampe sekarang lagu ini punya "jejak khusus" di hati saya.


C Major
. Itu chord dan scale pertama yang saya pelajari, salah satu andalan basic scale yang sampe sekarang saya pakai. Saya tidak begitu ingat prosesnya, tapi ada satu kesalahan yang mulai saya sadari sewaktu mulai belajar scale : fingering. Saya sama sekali belum latihan fingering sekalipun, picking aja gak kenal, walah ... padahal itu crusial banget buat speed dan integritas permainan. Apa yang terjadi, ya saya cuek aja ... wakakakak!

PARAS. Ini band pertama saya. Pertama kali diajak temen ikut latihan gara-gara salah-satu personilnya sibuk ngurusin cewenya haha ... maklum lah anak SMP. Di band ini saya dan personil lain punya satu selera yang sama : GIGI. Saya kenal gitar listrik pertama kali ya dari band ini, mulai tahu efek gitar dan perlengkapan band lainnya. PARAS bertahan pada corak musik pop alternatif.


Ape !. Temen saya yang satu ini yang ngajak saya pertama kali latihan bareng PARAS. LAma-lama malah sering diajak, eh si Puja malah gak datang-datang lagi, ya akhirnya bergabung sudah saya deh. AP adalah salah satu inspirator saya untuk belajar arpeggio alias petik-memetik dawai .. halah .. Dulu saya sering liatin dia metik gitar hehe, thanks Pe!

Supri. Nah, ini gitaris #1 di PARAS, kerjaannya ngurus melodi tapi jarang tau chord-nya hahaha, dasar aneh. Dia ini inspirator pertama saya untuk belajar scale. Saya ingat betul suatu saat dia main gitar di balkon kelas, waktu itu dia metik gitar pakai 4 jari, hehehe ... saya aja waktu itu baru belajar pakai 2 jari, eh dia udah empat.

150 ribu. Gitar kedua saya kira-kira harganya segitu, buatan Bandung. Gitar ini termasuk istimewa buat saya karena menemani saya di beberapa fase perjalanan musik saya. Tapi yang lebih seru, gitar ini pernah patah sampe 3 kali. Biar bisa berfungsi lagi saya harus pakai lem kayu super kuat plus gencetan meja belajar super berat selama beberapa hari. Alhasil sampai bertahun-tahun gitar itu masih saja ok lah.

Ujian Praktek. Pertama kali saya manggung ya di sini, ujian praktek kesenian. Waktu itu saya dan rekan-rekan main Hotel California dari Eagles, Jogjakarta dari Kla Project, dan satu lagi juga punya Kla Project tapi lupa judulnya. Di sini saya akustikan, so calm lah ...

BV. Ini band kedua saya, waktu itu Rangga (kelas 2) ngajak saya (si anak baru) buat main di bandnya. Di Band inilah pertama kali saya kenal musik yang "agak keras", Metallica. Saya diajak main untuk acara SMUNSA Day, acara tahunan yang tajuknya ulang tahun sekolah. Dan ... mulai dari sini saya rada serius latihan fingering. BV mainkan dua lagu waktu itu, Unforgiven - Metallica + RHCP yang syairnya kayak gini : "how long .. how long ...". Dari band ini juga sebagian temen tahu kalau ada gitaris namanya Lufty di kelas 1, hehe .. lumayan.

Mohan dkk. A revolutional band. Awal mula saya menjadi ngeblend dan jatuh cinta sama musik-musik metal ya dari band ini. Saya gabung di band ini akhir kelas 1. Waktu itu ada acara perpisahan di Pulau Bidadari dan malamnya ada pentas seni alias ngeband lah begitu. Saya sendiri gak menyangka dan sempat kaget karena band ini adalah band kunci yang membuat suasana acara "panas" dan meriah. Gimana gak panas, acara lagi kalem-kalemnya, tiba-tiba di bikin ribut sama lagu Freak on A Leash - Korn + Take A Look Around - Limpbizkit. Bahkan temen saya Godelz sampe kepeleset waktu asik loncat-loncatan di panggung. Walah, rusuh abis lah. Tapi yang paling lucu, teknisi peralatan band sampe was-was gara-gara ngeliat Maul sang drummer bikin drum pontang-panting (sampe matahin stick segala) dan panggung rada-rada goyang begitu hehe ... Maul sang drummer bilang begini di fs saya :
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pulau Bidadari, Juli 2000, 20.30 WIB.
Pertunjukan dibuka dengan Lagu Falls Apart-nya Sugar Ray. Penonton menanggapi biasa aja, seperti halnya band2 sebelumnya.
Suddenly, situasi berubah 180 derajat. The audience was stunned begitu lagu Freak On A Leash-nya KoRn meluncur dari atas panggung. Rusuh abis. Penonton mulai nggak terkontrol dan secara spontan membentuk mosh pit.
Pertunjukan ditutup dengan lagu Take A look Around-nya Limp Bizkit. Kerusuhan memuncak. Penonton saling dorong, saling sikut, moshing. The situation was out of control.
Pertunjukan selesai. Penonton berebutan menyalami pemain band. Nggak ada yang menyangka kalau band tersebut baru dibentuk seminggu sebelumnya. Dan itulah THE BEST PERFORMANCE malam itu. Nama band itu MOHAN dkk.
Mohan (vokal), Maulana (drum), Mamat (bass), Lufty (gitar), Lintang (vokal), Yon (keyboard)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

GIGI. Band ini yang menjadi inspirasi saya selama ini, gak ada gantinya lah. Spirit bermusik saya selalu datang dari sini. Saya mulai suka GIGI sejak kelas 1 SMP, tidak lama setelah mulai belajar gitar. Sampai sekarang inilah salah satu band terbaik yang ada.

Dewa Budjana. Pertama kali tertarik sama GIGI karena lihat Dewa Budjana main di video klip terbang album Kilas Balik. Waktu itu jatuh cinta sama gitarnya yang Klein warna biru, seksi banget tuh gitarnya. Sampe sekarang saya masih mengikuti musik-musiknya Dewa Budjana dan memang influencenya banyak sekali ke gaya permainan gitar saya sekarang ini.

Linkin Park. Satu lagi band inspirator saya. Satu yang sangat menarik dari mereka buat saya adalah cara mereka mengungkapkan hal-hal sedih dan pilu dengan sentuhan musik "keras". Benar-benar "kena" di hati ...

Satu hal yang menarik dari perjalanan saya dengan musik adalah transformasi total pola pikir saya dari "pembenci musik" menjadi "peminat musik", dan semua itu karena hadirnya sebuah gitar dalam hidup saya. So, "little thing does changes someone a lot."

3 komentar:

kumandigital mengatakan...

how long how long... judulnya "other side" >:)

Anonim mengatakan...

aih so sweet.. nama gw disebut2..

masih GIGI mania lo ye? eh ada tuh, rekaman hotel california kita pas manggung 3D.. mau tak??

Anonim mengatakan...

pa kabar Buluk, udah lama nih nggak bersua. Nanto